Ads Top

Hujan, Bersyukur atau Tidak.

Ketika Hujan Turun, Ada yang Bersyukur Ada yang Tidak.

Malang. Kemarin Sabtu saya berlari kencang dari gedung kuliah menuju parkiran dimana sepeda motor saya diparkirkan. Selain untuk menyelamatkan sepeda motor dari guyuran hujan, juga posisi saya yang tidak mau terjebak hujan. Akhirnya dalam hitungan menit saya bisa memindahkan motor tersebut. Saat itu jantung saya berdetak 150 BPM diukur menggunakan Mi Band yang saya gunakan. Sangat kencang sekali, tanda bahwa saya ngoyo ketika berlari.

Dibalik semua itu ada do'a yang selalu saya ucapkan ketika hujan turun membasahi bumi. Cukup simpel dan mudah dihafal do'a tersebut. Do'anya:
اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
"Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat”. HR. Bukhari No. 1032

Do'a itu selalu saya dengungkan ketika hujan turun. Selain rasa syukur yang dirasa, juga sebagai rasa takut apakah hujan ini akan membawa manfaat atau malah membawa mudharat. Maka untuk menghindarinya dengan selalu membaca do'a di atas. Saya tidak bershuudzan kepada Allah, tapi itulah husnudzan saya dengan berdo'a kepada-Nya.

Kedatangan hujan turun pun bermacam-macam tanggapan seorang Muslim di muka bumi ini, ada yang bersyukur ada pula yang bermuka kecewa. Bersyukur karena hujan merupakan pemberian Allah SWT. Merasa kecewa karena mungkin dalam posisi sulit apabila hujan turun. Sebenarnya bukan dalam posisi sulit yang disoroti, tapi Dia sedang lupa dengan campur tangan Allah atas turunnya hujan tersebut. Apabila sadar bahwa turun hujan adalah kuasa Allah, maka sikap yang ditampakkan adalah bersyukur.

Seorang Mu'min selalu saja bersyukur dalam keadaan apapun. Musim hujan bersyukur, musim kemarau bersukur, musim paceklik bersyukur dan lain sebagainya apapun keadaanya selalu saja besyukur. Saya juga heran kenapa bisa begitu, bagaimana bisa seorang mu'min bersikap segitunya. Ada apa sebenarnya? Untuk mencari tahu, saya pun bergegas membuka al-Qur'an.

Ayat pertama yang saya temukan yang berkaitan dengan syukur adalah surat Luqman ayat 31 Allah berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Rasa ingin tau saya akhirnya terjawab, yaitu ada semacam motivasi yang tertanam dalam diri seorang Mu’min untuk selalu bersyukur. Motivasinya adalah bahwa syukur itu hakikatnya untuk diri kita pribadi masing-masing bukan untuk orang lain apalagi Allah yang Maha Kaya.

Bagaimana dengan orang yang tidak atau enggan bersyukur kepada Allah? Dalam al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7. Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Ayat ini mengabarkan bahwa selain orang yang bersyukur itu pasti ditambah ni’matnya juga terdapat ancaman bagi seorang Muslim yang tidak mau bersyukur, yaitu diazab dengan adzab yang sangat pedih.

Jujur saya merinding dengan ayat ini, introspeksi diri adalah jalan saya sekarang. Mudah-mudahan kalian pembaca sekalian bukan termasuk orang yang biasa saja atau acuh tau acuh terhadap ni’mat saat ini, tetapi benar-benar merupakan orang yang selalu ingat kepada Allah atas ni’mat yang dirasakan.

Semoga bermanfaat.

No comments:

Powered by Blogger.