Ads Top

Kerikil Jum'at Zaman Modern


Malang. Seperti bisa pada hari Jumat saya mengajar 2 kelas bimbingan BTQ yang bertempat di masjid AR. Fakhrudin. Saat itu saya mengajar sampai mepet dengan ritual Jumat dimulai, karena memang waktu terlalu sedikit untuk bisa selesai paling tidak 10 - 20 menit sebelum ritual Jum'at dimulai.

Ternyata saya terlambat, ditambah lagi saya harus mengantri berwudhu beberapa menit lamanya. Biasanya pada hari Jum'at, WC putri bisa digunakan oleh laki-laki untuk berthaharah, namun saat itu tidak seperti yang saya harapkan, sehingga antrian sangat-sangat padat.

Khotib sedang menyampaikan materinya saat saya masuk ke dalam barisan jama'ah. Bukan mukhaddimah juga bukan nasihat taqwa ketika itu, tetapi materi inti yang sedang khotib sampaikan. Sangat-sangat telat, gugur pahala yang Rasulullah janjikan.

Tetapi ada sesuatu yang menggetarkan hati saya saat saya menelusuri jamah untuk bisa duduk di depan, bukan taajub melainkan hati saya merasa miris melihatnya. Dimana masih banyak dari jamaah yang masih asyik dengan handphonenya masing-masing. Masih bisa menyempatkan diri untuk membuka SosMed dan aplikasi lainnya. Intinya adalah bermain handphone saat khutbah berlangsung.
Langkah demi langkah saya dapati jamaah seperti penjelasan di atas dan saat itu juga saya langsung teringat hadits Rasulullah tentang larangan bermain-main pada saat khutbah Jumat berlangsung.

وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَى

Dan barangsiapa yang menyentuh (memainkan) kerikil maka ia telah berbuat sia-sia.[HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu]

Masjid pada zaman Nabi memang belum sebagus masjid zaman sekarang, megah dengan lantai keramik. Masjid pada zaman Nabi sangat sederhana, berupa dinding mengelilingi dan atap dari pelepah-pelepah kurma dengan lantai tidak sebagus hari ini. Sehingga pada saat itu jamah rentan sekali bermain kerikil karena ada di mana-mana. Maka keluarlah hadits di atas.

Pertanyaan sekarang adalah apakah ada hubungannya antara kerikil dan handphone di atas? Ya ada, yaitu dengan cara menqiyaskan, menyamakan kejadian dan menyamakan illatatau pokok alasan antara dua kejadian di atas sehingga handphone bisa dimasukkan ke dalam kategori hukum hadits tersebut.

Bermain kerikit sifatnya bermain-main juga sama halnya dengan mengoprasikan handphone atau smartphone saat khutbah berlangsung. Larangan serta balasan pun sama kepada jamaah yang bermain handphone, yaitu tidak mendapatkan pahala ritual Jumat secara sempurna dengan kata lain Jumatnya sia-sia.

Ritual Jumat memang sangat sakral. Menegur jamah disertai dengan suara pelan saja tidak diperbolehkan apalagi mengoperasikan dan bermain-main dengan smartphone yang otomatis tidak mendengarkan khotib berceramah. Sehingga pahala serta ilmu yang disampaikan khotib hilang sia-sia.

Ritual Jumat memang harus sakral, penuh perhatian, membuka telinga, membuka hati dan pikiran, mengobarkan semangat ilahiyah, introspeksi diri. Jangan menjadikan pahala Jumat kita sia-sia hanya karena kerikil atau smartphone -zaman sekarang- tentu akan menjadikan diri kita termasuk orang-orang merugi.

Semoga menjadi renungan.

No comments:

Powered by Blogger.