Ads Top

Mengikhlaskan Sandal Hilang di Masjid

Hilang Sandal di Masjid, Ikhlas atau Diikhlaskan?

Malang. Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Rabu 14 maret 2017 saya kehilangan sandal di masjid. Memang pada hari itu saya tidak memasukkannya ke dalam rak sepatu, karena saat itu semua locker sudah terisi penuh. Akhirnya saya taruh sandal saya tepat di belakang tong sampah yang kebetulan berada di depan penyimpanan sepatu.

Sehabis mengajar BTQ, ternyata sandal saya sudah raib. Kemudian saya cari ke semua locker yang tertutup siapa tau petugas masjid memasukkan sebagai kerapian masjid, ternyata tidak ada juga. Maka saya pun pasrah.

Hari Jum'atnya, anak bimbingan BTQ saya kehilangan juga. Kali ini sepatu Nike original yang harganya tidak murah hilang tanpa jejak. Kesalahan paling fatal kali ini adalah dengan menaruhnya sembarangan, yaitu di tangga masjid. Akhirnya Ia pun tak kuasa membendung air mata.

Mungkin masih banyak lagi yang menjadi korban pencurian sandal dan sepatu di masjid selain saya dan anak bimbingan BTQ saya tadi. Dalam istilah populernya adalah Ghosob. Sepertinya sudah lumrah saja terjadi pencurian sandal atau sepatu di masjid. Berangkat ke masjid dengan sandal jelek, pulang dapat sandal baru. Fenomena ini tentu tidak dibenarkan.

Sebenarnya arti ghosob yang sebenarnya adalah mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan orang yang punya bukan untuk dimiliki. Bahasa gampangnya adalah minjam tanpa izin terlebih dahulu. Ghosob itu bahasa Arab kalau diartikan ke dalam Bahasa Idonesia menjadi pembajakan, intinya adalah sama-sama mengambil manfaat tanpa izin dari barang yang hasil pencurian tersebut.

Sekarang bagaimana sikap kita ketika kehilangan sandal atau sepatu di masjid. Saya yakin semua orang pasti merasa sangat didholimi ketika sandalnya hilang karena saya merasa begitu. Walaupun merasa bisa membeli kembali, tetapi rasa kehilangan itu tetap ada. Bahkan ada orang yang mendoa’akan si pencuri sandal atau sepatunya dengan do’a yang bermacam-macam dengan dalih agar pencuri tersebut celaka. Tentu sikap tersebut tidak dibenarkan dalam Islam, cukup berdo’a untuk si pencuri agar mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Dalam Kitab Hasyiyah Bujairimi alal Khathib karangan syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al Bujairimi membahas perkara ini. Disebutkan dalam bab 3 halaman 141:

فرع من ضل نعله فى مسجد ووجد غيره لم يجز له لبسه و ان كان لمن اخذ نعله، وله فى هذه الحالة بيعه و اخذ قدر قيمة نعله من ثمنه ان علم انه لمن اخذ نعله، و الا فهو اقطة البجيرمى على الخطيب ٣/ ١٤١

Artinya " Barang siapa yang tertukar sandalnya di masjid dan ia menemukan sandal lain, maka ia tidak boleh memakainya walaupun sandal itu milik orang yang mengambilnya.  tapi baginya boleh mengambil dan menjualnya lalu memiliki uang dari hasil penjualan itu jika ia tahu dan yakin sandal tersebut  adalah sandal dari orang yg mengambil sandalnya dan jika tidak mengetahuinya maka sandal tersebut dihukumi barang temuan(luqathah). Bab 3 halaman 141.

Kesimpulannya adalah jika ada sesuatu yang hilang dari diri kita, maka sikap sebagai seorang mu’min adalah yakin bahwa itu merupakan takdir Allah SWT. Yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dengan kata lain kita harus ikhlas atas kehilangan tersebut. Ikhklaskan dengan hati yang ihklas.

Semoga bermanfaat.

No comments:

Powered by Blogger.